Monday, September 29, 2008

Q'no Hasil Penelitian Tanaman Bayam

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Tanaman bayam yang dikenal dengan nama ilmiah Amaranthus sp. Merupakan tanaman setahun atau lebih dari bentuk perdu (semak) yang banyak digemari oleh seluruh lapisan masyarakat. Hal ini karena selain rasanya enak dan lunak, juga dapat memberikan rasa dingin dalam perut dan memperlancar pencernaan (Anonim, 2008)
Tanaman bayam saat ini sudah tersebar di seluruh dunia. Beberapa negara yang menjadi pusat penyebaran bayam antara lain Papua Nugini, Taiwan, Hongkong, India, Nigeria, Dahomy, Amerika Serikat dan Indonesia. Di Indonesia sendiri, menurut Balai Penyuluh Spesialis, (1991) dalam Rukmana (1995) produksi tanaman bayam tertinggi sebesar 5,6 ton per hektar, dan terendah 2,0 ton per hektar (Rukmana, 1995).
Di negara Timor Leste pada tahun 2007 menurut hasil dari MAFP tanaman bayam sudah dibudidayakan oleh masyarakat, dan produksi seluruhnya mencapai 614,6 ton. (Anonim, 2007).

1.2 Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh pengolahan tanah dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bayam.
Untuk menentukan pengolahan tanah dan jarak tanam yang sesuai terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bayam

1.3 Manfaat
Sebagai bahan informasi bagi para petani untuk memperbaiki teknik-teknik budidaya tanaman bayam yang sesuai.
Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain yang berminat untuk melakukan penelitian lanjutan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Botani dan Morfologi
2.1.1 Botani
Tanaman bayam adalah salah satu tanaman sayur-sayuran yang kedudukannya dalam tata nama tumbuhan atau taksonomi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
- Kingdom : Planta
- Divisio : Spermatophyta
- Sub division : Angyospermae
- Kelas : Dicotyledoneae
- Famili : Amaranthaceae
- Genus : Amaranthus
- Species : Amaranthus sp.

2.1.2 Morfologi
Tanaman bayam termasuk tanaman setahun atau lebih yang berbentuk perdu (terna) yang tingginya dapat mencapai 1,5 m. Sistem perakarannya menyebar dangkal pada kedalaman antara 20-40 cm, dan memiliki akar tunggang.
Batang bayam banyak mengandung air (herbaceous) tumbuhan tinggi di atas permukaan tanah. Bayam tahunan memiliki batang yang keras, berkayu dan bercabang banyak.
Daun bayam umumnya berbentuk bulat telur dengan ujung agak meruncing dan urat-urat daunnya jelas. Daun bayam umumnya mempunyai warna yang bervariasi mulai dari hijau muda, hijau tua, hijau keputih-putihan sampai berwarna merah. Daun bayam liar umumnya kasat (kasar) dan kadang berbuluh.
Bunga tersusun dalam malai yang tumbuh tegak, keluar dari ujung tanaman ataupun dari ketiak-ketiak daun. Bunga bayam terdiri dari daun bunga 4-5 buah, benang sari 1-5, dan bakal buah 2-3 buah.
Alat reproduksi (perbanyakan tanaman) umumnya secara generatif (menggunakan biji). Biji berukuran sangat kecil dan halus, berbentuk bulat dan berwarna coklat tua mengkilap sampai hitam tua.
2.2 Syarat Tumbuh
Tanaman bayam dapat tumbuh sepanjang tahun, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi (pegunungan) sampai ketinggian 2000 m dpl. Bayam akan tumbuh dengan baik pada tempat yang terbuka.
Bayam termasuk salah satu jenis sayuran yang dapat tahan terhadap air hujan. Jadi tanaman bayam dapat ditanam sepanjang tahun, asal saja pada musim kemarau diperhatikan penyiramannya. Derajat keasaman tanah (pH) tanah yang cocok untuk pertumbuhannya berkisar antara 6-7. curah hujan yang cocok per tahunnya adalah 1500 mm, membutuhkan cahaya matahari penuh, dan suhu tanah berkisar antara 16-200C, serta kelembaban tanahnya 40-60 %.

2.3 Pengaruh Pengolahan Tanah
Pemakaian factor pengolahan tanah berpengaruh terhadap produksi tanaman bayam. Pengolahan dua kali akan menghasilkan produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengolahan satu kali dan tanpa pengolahan tanah. Karena menurut Rukmana untuk mendapatkan produksi tanaman bayam yang tinggi perlu melakukan pengolahan tanah yang baik yaitu sebanyak dua kali agar tanah benar-benar gembur dengan kedalaman 30-40 cm. Produksi yang dihasilkan dari pengolahan tanah dua kali yaitu 5,6 ton per hektar, pengolahan tanah satu kali menghasilkan produksi 3,5 ton per hektar, dan tanpa pengolahan tanah menhghasilkan produksi 2,0 ton per hektar.

2.4 Pengaruh Jarak Tanam
Dalam pembudidayaan suatu tanaman, pengaruh jarak tanam dapat dilakukan guna mendapatkan produksi yang optimal serta dengan pemakaian factor jarak tanam dapat menentukan kebutuhan benih pada suatu lahan. Jarak tanam juga akan mempegaruhi cepat atau lambatnya tanaman dalam memproduksi. Factor jarak tanam berpengaruh terhadap hasil produksi tanaman bayam. Jarak tanam 20 x 40 cm memberikan hasil produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan jarak tanam 20 x 30 cm dan 20 x 20 cm. jarak tanam 20 x 40 cm memberikan hasil yang lebih tinggi yaitu 5,6 ton per hektar, jarak tanam 20 x 30 cm memberikan hasil produksi 3,5 ton per hektar, dan jarak tanam 20 x 20 cm memberikan hasil produksi 2,0 ton per hektar.

2.5 Landasan Teori
Pengaruh jarak tanam suatu tanaman ditentukan oleh ukuran tanaman itu sendiri. Jarak tanam yang sesuai pada hakekatnya adalah mengatur ruang lingkup yang optimum sehingga persaingan dalam memperoleh unsure-unsur hara dan sinar matahari antara individu-individu dapat ditekan kecilnya atau ditiadakan sama sekali dengan masing-masing perlakuan. Jarak tanam yang tidak sesuai juga dapat mengakibatkan terjadinya serangan hama dan penyakit sehingga hasil produksinya berkurang. Pengaruh jarak tanam yang teratur dimaksudkan agar penyiangan gulma dan pemberian pupuk mudah dilaksanakan. Jarak tanam mempengaruhi jumlah populasi tanaman dan mempengaruhi kompetisi antara tanaman yang akan mempengaruhi hasil. Penggunaan jarak tanam yang tepat untuk tanaman bayam adalah 20 x 40 cm, untuk memperoleh hasil yang tinggi.
Dengan berbagai penggunaan jarak tanam yang digunakan untuk mendapatkan produksi yang dapat dibandingkan dalam penggunaan jarak tanam yang berbeda perlakuan dan merupakan salah satu teknik budidaya dalam meningkatkan hasil tanaman dan mendukung penggunaan lahan pertanian secara efisien, dan mempengaruhi cepat atau lambatnya tanaman dalam berproduksi.
Penggunaan pengolahan tanah dua kali dalam jarak tanam 20 x 40 cm akan memberikan hasil produksi 5,6 ton per hektar, sedangkan penggunaan tanpa pengolahan tanah dan jarak tanam 20 x 20 cm memberikan hasil 2,0 ton per hektar.

2.6 Hipotesis
a. Diduga bahwa penanaman tanaman bayam pada pengolahan tanah dua kali dan jarak tanam 20 x 40 cm akan memberikan hasil produksi tertinggi.
b. Diduga bahwa penanaman tanaman bayam pada pengolahan tanah satu kali dan jarak tanam 20 x 30 cm akan memberikan hasil produksi optimum.
c. Diduga bahwa penanaman tanaman bayam pada tanpa pengolahan tanah dan jarak tanam 20 x 20 cm akan memberikan hasil yang terendah.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu penelitian
3.1.1 Tempat
Penelitian ini akan dilaksanakan dikebun percontohan Fakultas Pertanian di Suco Hera, Sub distrik Metinaro, Distrik Dili, dengan ketinggian tempat 20 m dpl.
3.1.2 Waktu
Penelitian ini akan dilaksanakan pada awal bulan April sampai Mei 2008.
3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: benih bayam, pupuk urea dan air.
3.2.2 Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: rol meter, parang, linggis, cangkul, timbangan analitik, thermometer tanah, tali raffia, jangka sorong, mistar dan ember.
3.3 Persiapan lahan
3.3.1 Persiapan dan pengolahan tanah
Sebelum lahan diolah, dilakukan pemilihan lokasi dengan syarat lokasi tersebut tidak ternaungi, serta jauh dari gangguan binatang, baik binatang piaraan maupun binatang liar. Setelah pemilihan, lokasi tersebut diukur luas lahannya berdasarkan luas lahan yang akan digunakan dalam penelitian. Lahan yang telah diukur dilakukan pengolahan dengan membajak atau mencangkul sesuai dengan factor yang akan digunakan yaitu tanpa pengolahan, pengolahan satu kali dan pengolahan dua kali.
3.3.2 Luas lahan yang dipakai
Lahan yang akan digunakan dalam penelitian ini berukuran 12 x 6,40 m. luas seluruhnya 76,8 m2.

3.3.3 Persiapan benih
Benih bayam
3.3.4 Pembuatan bedengan
Bedengan dibuat dengan ukuran tiap bedengnya 1 x 1,80 m, dan tinggi bedengan 15-20 cm. Jumlah bedengan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah 27 bedeng. Jarak antar bedeng 0,25 m dan jarak antar blok 0,50 m.
3.3.5 Penanaman
Penanaman dilakukan setelah dibuat lubang penanaman pada bedeng yang telah disiapkan sesuai dengan ukuran jarak tanam yang digunakan. Penanaman dilakukan langsung dilapangan (sebar) tanpa menyemaikan benih terlebih dahulu. Sebelum disebar, benih terlebih dahulu dicampur dengan abu dapur.
3.3.6 Rancangan yang digunakan
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok (RAK) factorial yang diulang dalam tiga blok dan terdiri dari dua factor, yaitu: factor pertama adalah: pengolahan tanah yang terdiri dari tiga level perlakuan yaitu:
- P0 : tanpa pengolahan tanah
- P1 : pengolahan tanah satu kali
- P2 : pengolahan tanah dua kali
Factor kedua adalah: jarak tanam yang terdiri dari tiga level perlakuan yaitu:
- J1 : jarak tanam 20 x 20 cm
- J2 : jarak tanam 20 x 30 cm
- J3 : jarak tanam 20 x 40 cm
Maka kombinasi perlakuannya adalah:
P/J
J1
J2
J3
P0
P0J1
P0J2
P0J3
P1
P0J1
P0J2
P0J3
P2
P0J1
P0J2
P0J3
3.6 Variabel pengamatan
3.6.1 Variabel lingkungan
3.6.1.1 Suhu Tanah (0C)
Suhu tanah diukur pada awal, pertengahan dan akhir dari pertumbuhan tanaman untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap pertumbuhan perkembangan tanaman. Pengukuran dilakukan dengan cara menancapkan thermometer ke dalam tanah sedalam 5-10 cm.
3.6.1.2 Kadar Lengas Tanah (%)
Kadar lengas tanah diukur bersamaan dengan diukurnya suhu tanah, yaitu diukur pada awal, pertengahan dan akhir dari pertumbuhan tanaman untuk mengetahui kandungan air didalam tanah. Pengukuran kadar lengas tanah dilakukan dengan metode gravimetric yaitu dengan menancapkan pipa paralon sedalam 5-10 cm kemudian ditimbang untuk mengetahui berat basahnya, setelah itu diovenkan pada suhu 1500 C selama 48 jam untuk mengetahui berat keringnya. Rumus untuk mengetahui kadar lengas tanah yaitu:
Ket.
KL : kadar lengas
BB : berat basah
BK : berat kering
3.6.2 Variabel Pertumbuhan
3.6.2.1 Jumlah Daun
Jumlah daun diukur pada saat tanaman berumur 3MST dan 4MST untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman melalui penerimaan sinar matahari. Pengukuran dilakukan dengan cara menghitung saja jumlah daun yang dilihat dengan mata.
3.6.2.2 Tinggi Tanaman
Tinggi tanaman juga diukur bersamaan dengan jumlah daun, yaitu pada saat tanaman berumur 3MST dan 4MST untuk mengetahui laju pertumbuhan tanaman. Pengukuran dilakukan dengan cara menggunakan penggaris diukur dari permukaan tanah sampai pada titik tumbuh tanaman.
3.6.2.3 Diameter Batang
Diameter batang juga diukur pada saat tanaman berumur 3MST dan 4MST untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman. Pengukuran dilakukan dengan cara menggunakan jangka sorong.
3.6.3 Variabel Hasil
3.6.3.1 Berat Segar Berangkasan ton per hektar
Berat segar tanaman ini diukur pada saat tanaman dipanen untuk membandingkan dengan dugaan atau hipotesis dari factor yang berpengaruh. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan timbangan duduk.
3.7 Pemeliharaan
3.7.1 Penyiraman
Penyiraman dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari untuk menjaga agar ketersediaan air di dalam tanah tetap memenuhi kebutuhan tanaman.
3.7.2 Pemupukan
Pemupukan dilakukan pada saat tanaman berumur 3MST untuk menambah unsure hara didalam tanah, sehingga tanaman tetap memiliki unsure hara yang cukup untuk pertumbuhannya. Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk urea.
3.7.3 Penyiangan Gulma dan penggemburan
Penyiangan gulma dilakukan untuk mencegah terjadinya kompetisi unsur hara antara tanaman dengan gulma. Sedangkan penggemburan dilakukan bersamaan dengan dilakukannya penyiangan gulma dengan tujuan untuk menggemburkan tanah yang padat serta memberikan ruang yang cukup bagi akar dalam melakukan penyerapan unsur hara.
3.8 Panen
Panen dilakukan pada saat tanaman berumur vegetatif yaitu umur tanaman antara 25-35 hari dengan ketinggian tanaman 15-25 cm.
3.9 Analisa Data
Semua data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan sidik ragam pada taraf kritis 5 % untuk mengetahui ada tidaknya beda nyata antar masing-masing perlakuan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.Variabel Lingkungan
4.1.1 Suhu Tanah (0C)
Dari hasil analisis menunjukan bahwa tidak terjadi interaksi antar kedua factor terhadap suhu tanah awal, pertengahan dan akhir.
Table 1. Suhu Tanah (0C)
Waktu pengamatan
Pengolahan tanah
Jarak tanam
Rerata
20x20 cm
20x30 cm
20x40 cm
Awal
Tanpa pengolahan
38,20
39,00
40,03
39,08 A
Pengolaha satu kali
38,23
36,27
38,70
37,73 A
Pengolahan dua kali
38,63
37,97
38,10
38,20 A
Rerata
38,35 a
37,75 a
38,94 a
(-)
Pertengahan
Tanpa pengolahan
32,97
32,87
31,97
32,60 A
Pengolahan satu kali
31,47
29,20
32,40
31,02 A
Pengolahan dua kali
30,47
32,62
30,47
31,19 A
Rerata
31,64 a
31,56 a
31,61 a
(-)
Akhir
Tanpa pengolahan
33,60
32,57
32,63
32,93 A
Pengolahan satu kali
35,07
34,23
34,20
34,50 A
Pengolahan dua kali
33,83
32,70
36,60
34,38 A
Rerata
34,17 a
33,17 a
34,48 a
(-)
Keterangan : Angka pada kolom yang diikuti dengan huruf besar yang sama dan angka pada baris yang diikuti dengan huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata pada uji BNT 5 %.
(-) tidak terjadi interaksi antar kedua factor.
Tabel 1 menunjukkan bahwa faktor pengolahan tanah dan jarak tanam tidak berpengaruh terhadap suhu tanah awal penelitian. Hal ini terjadi karena permukaan tanah belum tertutup vegetasi tanaman. Permukaan tanah yang ditutupi oleh tanaman memberikan suhu yang sama karena permukaan tanah menerima cahaya matahari secara seragam. Faktor pengolahan tanah dan jarak tanam berpengaruh secara seragam terhadap suhu tanah pertengahan dan akhir penelitian, tetapi hasil suhu tanah pada suhu tanah pertengahan cenderung tertinggi diperoleh pada perlakuan tanpa pengolahan tanah. Hal ini terjadi karena pada perlakuan tanpa pengolahan tanah, air yang diserap sangat sedikit dibandingkan dengan air yang keluar. Menurut Indranarto (1989) menyatakan bahwa, suhu tanah mangalami perubahan disebabkan oleh jumlah panas yang diabsorbsi oleh permukaan tanah, warna tanah dan keadaan tanah yang terbuka akan menyebabkan panas matahari banyak terserap dan menyebabkan suhu meningkat. Karena suhu dipengaruhi oleh kandungan air didalam tanah, maka suhu pada perlakuan tanpa pengolahan tanah dapat meningkat seiring dengan berkurangnya air yang diserap oleh tanah. Sedangkan pada suhu tanah akhir, suhu tertinggi cenderung diperoleh pada perlakuan jarak tanam 20 x 40 cm. Hal ini terjadi karena adanya vegetasi atau tanaman penutup permukaan tanah juga dipengaruhi oleh faktor jarak tanam, dimana jarak tanamnya semakin renggang maka tidak terjadi kompetisi antara tanaman utama dengan tanaman pesaing dalam merebut unsur hara, air dan cahaya matahari. Hal ini didukung oleh pendapat Jumin (1997), menyatakan bahwa suhu udara yang tinggi akan dipengaruhi oleh cahay matahari yang mengakibatkan terjadinya evaporasi, sehingga air tanah semakin meningkat juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

4.1.2 Kadar Lengas Tanah (%)
Dari hasil analisis menunjukan bahwa tidak terjadi interaksi antar kedua factor terhadap kandungan lengas tanah awal, pertengahan dan akhir.
Tabel 2. Kandungan Lengas Tanah
Waktu pengamatan
Pengolahan tanah
Jarak tanam
Rerata
20x20 cm
20x30 cm
20x40 cm
Awal
Tanpa pengolahan
9,02
6,19
10,29
8,50 A
Pengolahan satu kali
7,38
8,83
12,69
9,63 A
Pengolahan dua kali
10,68
4,65
10,52
8,62 A
Rerata
9,03 a
6,56 a
11,17 a
(-)
Pertengahan
Tanpa pengolahan
16,73
17,42
19,80
17,98 A
Pengolahan satu kali
19,86
14,65
14,22
16,24 A
Pengolahan dua kali
18,39
16,43
17,50
17,44 A
Rerata
18,33 a
16,17 a
17,17 a
(-)
Keterangan : Angka pada kolom yang diikuti dengan huruf besar yang sama dan angka pada baris yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata pada uji BNT 5 %.
(-) tidak terjadi interaksi antar kedua factor.
Tabel 2 diketahui bahwa faktor pengolahan tanah dan jarak tanam tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan lengas tanah awal penelitian. Hal ini terjadi karena pada kandungan lengas tanah awal belum dipengaruhi oleh kedua faktor sehingga kandungan lengas tanah terjadi secara seragam. Keseragaman kandungan lengas tanah awal disebabkan karena permukaan tanah belum tertutup vegetasi tanaman. Permukaan tanah yang belum tertutupi vegetasi tanaman. Permukaan tanah yang belum tertutupi oleh vegetasi tanaman memberikan kandungan lengas tanah yang sama karena permukaan tanah menerima cahaya matahari secara seragam, akibatnya kandungan lengas tanah relatif seragam.
Faktor pengaturan jarak tanam tidak berpengaruh secara nyata terhadap kandungan lengas tanah pertengahan namun hasil tertinggi diperoleh pada perlakuan jarak tanam 20 x 20 cm. Hal ini dapat disebabkan karena pada jarak tanam ini tanaman mudah menyerap air dan jarang melepaskannya kembali ke udara (evaporasi). Hal ini didukung oleh pendapat Jumin (1992), menyatakan bahwa suhu udara yang tinggi akan dipengaruhi oleh cahaya matahari yang mengakibatkan terjadinya evaporasi, sehingga air tanah semakin meningkat juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Hal yang serupa dikatakan oleh Wihardjo (1993), bahwa intensitas penyinaran sinar matahari erat kaitannya dengan suhu lingkungan dan suhu tanah. Dimana suhu udara yang tinggi akibat faktor cahaya meningkatkan suhu tanah, suhu tanah yang tinggi akan meningkatkan laju penyerapan air oleh akar tanaman menyebabkan evaporasi meningkat konsentrasi air dalam tanah rendah akibat kadar lengas tanah menurun.

4.2 Variabel Pertumbuhan
4.2.1 Jumlah Daun (helaian)
Dari hasil analisis menunjukan bahwa tidak terjadi interaksi antar kedua factor terhadap jumlah daun tanaman. Tetapi kedua factor tidak berpengaruh secara nyata terhadap jumlah daun.


Table 3. Jumlah Daun (helaian)
Waktu pengamatan
Pengolahan tanah
Jarak tanam
Rerata
20x20 cm
20x30 cm
20x40 cm
3MST
Tanpa pengolahan
6,33
6,33
6,33
6,33 A
Pengolahan satu kali
8,00
6,33
6,67
7,00 A
Pengolahan dua kali
7,33
6,67
7,00
7,00 A
Rerata
7,22 a
6,44 a
6,67 a
(-)
4MST
Tanpa pengolahan
9,67
9,33
9,33
9,44 A
Pengolahan satu kali
11,00
10,33
10,67
10,67 A
Pengolahan dua kali
10,33
10,33
11,33
10,66 A
Rerata
10,33 a
9,99 a
10,44 a
(-)
Keterangan : angka pada kolom yang diikuti dengan huruf besar yang sama dan angka pada baris yang diikuti dengan huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata pada uji BNT 5 %.
(-) tidak terjadi interaksi antar kedua faktor
Tabel 3 menunjukkan bahwa faktor pengolahan tanah berpengaruh secara seragam terhadap jumlah daun umur 3MST dan 4MST. Namun pada umur 3MST hasil tertinggi diperoleh pada perlakuan pengolahan tanah satu kali dan pengolahan tanah dua kali. Sedangkan pada umur tanaman 4MST hasil tertinggi cenderung diperoleh pada perlakuan pengolahan tanah satu kali. Hal ini disebabkan karena diduga dengan menggunakan perlakuan pengolahan tanah satu kali dan dua kali tanah menjadi gembur sehingga dapat memberi ruang gerak yang optimal bagi tanaman dalam pengambilan unsur hara. Menurut Abidin (1982), menyatakan bahwa dalam memulai suatu aktivitas pertumbuhannya, hal yang perlu diperhatikan adalah proses fisiologi, hormon dan enzim kemudian diikuti dengan morfologi yang ditandai dengan pemunculan organ-organ tanaman seperti akar, batang dan daun. Ruang gerak yang optimal bagi tanaman juga dapat memberikan peluang bagi tanaman dalam pengambilan unsur melalui cahaya matahari sehingga dapat menambah jumlah daun menjadi meningkat. Hal ini didukung oleh pendapat Supriadi (1988), yang menyatakan bahwa perkembangan daun sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti cahaya matahari, carbondioksida, air dan unsur hara.





4.2.2 Tinggi Tanaman (cm)
Dari hasil analisis menunjukan bahwa tidak terjadi interaksi antar kedua fajtor. Tetapi kedua factor tidak berpengaruh secara nyata terhadap tinggi tanaman.
Table 4. Tinggi Tanaman (cm)
Waktu pengamatan
Pengolahan tanah
Jarak tanam
Rerata
20x20 cm
20x30 cm
20x40 cm
3MST
Tanpa pengolahan
5,97
6,57
7,00
6,35 B
Pengolahan satu kali
9,03
7,13
8,00
8,05 A
Pengolahan dua kali
8,20
7,40
8,53
8,04 A
Rerata
7,57 a
7,03 a
7,84 a
(-)
4MST
Tanpa pengolahan
21,93
27,60
22,80
24,11 A
Pengolahan satu kali
28,70
31,13
29,33
29,72 A
Pengolahan dua kali
28,47
24,73
29,97
27,72 A
Rerata
26,37 a
27,82 a
27,37 a
(-)
Keterangan : angka pada kolom yang diikuti dengan huruf besar yang sama dan angka pada baris yang diikuti dengan huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata pada uji BNT 5 %.
(-) tidak terjadi interaksi antar kedua faktor
Tabel 4 menunjukkan bahwa faktor pengolahan tanah berpengaruh secara seragam terhadap tinggi tanaman umur 3MST dan 4MST. Perlakuan pengolahan tanah satu kali cenderung memperoleh hasil yang tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lain. Hal ini terjadi karena diduga dengan menggunakan perlakuan pengolahan tanah yang optimal, tanaman dapat bergerak dalam pengambilan unsur hara dan juga penangkapan cahaya matahari yang optimum, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan cepat seiring dengan proses pertumbuhan dan perkembangannya.
Faktor jarak tanam berpengaruh secara seragam terhadap tinggi tanaman 3MST dan 4MST. Namun pada umur tanaman 3MST hasil tertinggi diperoleh pada perlakuan jarak tanam 20 x 40 cm, sedangkan pada umur tanaman 4MST hasil tertinggi cenderung diperoleh pada perlakuan 20 x 30 cm. Hal ini terjadi karena pada perlakuan jarak tanam yang optimun tanaman tidak saling bersaing dalam pengambilan unsur hara, dan tanaman bebas melakukan proses fotosintesis dan bebas menyerap air, sehingga pertumbuhan tanaman terjadi secara maximun. Hal ini didukung dengan pendapat Prajnanta (1996), yang menyatakan bahwa pengaturan jarak tanam yang optimun menyebabkan penangkapan cahaya yangoptimal, sehingga tidak terjadi persaingan dalam mengambil unsur hara dan pembentukan asimilat lebih optimal sehingga pertumbuhan tanaman lebih tinggi.

4.2.3 Diameter Batang (mm)
Dari hasil analisis menunjukan bahwa tidak terjadi interaksi antar kedua factor. Tetapi kedua factor berpengaruh secara nyata terhadap diameter batang.
Table 5. Diameter Batang (mm)
Waktu pengamatan
Pengolahan tanah
Jarak tanam
Rerata
20x20 cm
20x30 cm
20x40 cm
3MST
Tanpa pengolahan
0,27
0,28
0,30
0,28 A
Pengolahan satu kali
0,43
0,31
0,42
0,39 A
Pengolahan dua kali
0,31
0,37
0,37
0,35 A
Rerata
0,34 a
0,32 a
0,36 a
(-)
4MST
Tanpa pengolahan
0,73
0,79
0,82
0,78 A
Pengolahan satu kali
1,02
0,97
0,96
0,98 A
Pengolahan dua kali
0,97
1,09
0,87
0,98 A
Rerata
0,91 a
0,95 a
0,88 a
(-)
Keterangan : angka pada kolom yang diikuti dengan huruf besar yang sama dan angka pada baris yang diikuti dengan huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata pada uji BNT 5 %.
(-) tidak terjadi interaksi antar kedua faktor.
Tabel 5 menunjukkan bahwa faktor pengolahan tanah dan jarak tanam tidak berpengaruh terhadap diameter batang umur 3MST dan 4MST. Pada umur tanaman 3MST hasil tertinggi diperoleh pada perlakuan jarak tanam 20 x 40 cm. Sedangkan pada umur tanaman 4MST hasil tertinggi diperoleh pada perlakuan jarak tanam 20 x 30 cm. Hal ini terjadi karena pengaturan jarak tanam yang renggang sehingga tidak terjadi kompetisi antara tanaman utama dengan tanaman pesaing dalam merebut unsur hara, air dan cahaya matahari, sehingga ketersediaan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman dapat dimanfaatkan oleh tanaman secara optimal. Hal ini didukung oleh Prajnanta (1997), bahwa pengaturan jarak tanam yang optimal penangkapan cahaya lebih optimal, tidak terjadi persaingan dalam mengambil unsur hara dan pembentukan asimilat lebih optimal menyebabkan diameter batang lebih besar.
Faktor pengolahan tanah berpengaruh secara seragam terhadap diameter batang umur 3MST dan 4MST. Namun diameter batang pada umur 3MST cenderung tertinggi diperoleh pada perlakuan pengolahan tanah satu kali. Sedangkan diameter batang pada umur 4MST hasil tertinggi cenderung diperoleh pada pengolahan tanah satu kali dan pengolahan tanah dua kali. Hal ini disebabkan karena pada tanah yang tanpa diolah struktur tanahnya padat dan sangat sukar menyerap air sehingga dapat mempengaruhi proses penyerapan unsur hara dalam tanah dan juga proses proses pengambilan unsur melalui cahaya matahari, sehingga dapat menyebabkan pertumbuhan tanamann dapat terhambat. Hal ini didukung oleh pendapat Amien (1994), bahwa respirasi pada daun berjalan terus, sehingga bahan kering yang terbentuk dimanfaatkan untuk respirasi, menyebabkan diameter batang yang dihasilkan kecil. Pengurangan hasil fotosintesis dapat menyebabkan jaringan tanaman akan mati karena kekurangan makanan, menyebabkan batang tanaman lembek dan kurus serta tumbuh tidak normal.

4.3 Variabel Hasil
4.3.1 Berat segar tanaman (ton/há)
Dari hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antar kedua faktor. Namun kedua faktor berpengaruh secara nyata terhadap berat segar tanaman.
Tabel 6. Berat segar tanaman ton/ha
Pengolahan tanah
Jarak tanam
Rata-rata
20 x 20 cm
20 x 30 cm
20 x 40 cm
Tanpa pengolahan tanah
2,92
2,87
2,42
2,74 C
Pengolahan tanah satu kali
4,58
3,89
3,75
4,07 B
Pengolahan tanah dua kali
4,61
5,27
5,08
4,99 A
Rata-rata
4,04 a
4,01 a
3,75 a
(-)
Keterangan : angka pada kolom yang diikuti dengan huruf besar yang sama dan angka pada baris yang diikuti dengan huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata pada uji BNT 5 %.
(-) tidak terjadi interaksi antar kedua faktor.
Tabel 6 menunjukkan bahwa faktor pengolahan tanah berpengaruh secara seragam terhadap berat segar tanaman. Namun hasil tertinggi cenderung diperoleh pada perlakuan pengolahan tanah dua kali. Hal ini terjadi karena pada perlakuan dua kali pengolahan tanah, tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan mampu menyerap unsur hara didalam tanah dengan baik karena struktur tanah yang gembur dapat memberi ruang gerak yang optimal bagi tanaman dalam proses pengambilan unsur hara. Sehingga pada perlakuan pengolahan tanah dua kali tanaman memiliki kemampuan yang tinggi dalam menerima cahaya, air dan unsur hara dalam tanah guna pembentukan organ-organ vegetatif tanaman. Hal tersebut diperkuat dengan teori Gardner et al (1991) yang menyatakan bahwa kekurangan kelembaban dan air dapat menurunkan hasil panen dan menurunkan hasil fotosintesis yang parah.
Faktor jarak tanam berpengaruh secara seragam terhadap berat segar tanaman. Namun hasil tertinggi diperoleh pada perlakuan jarak tanam 20 x 20 cm. Hal ini disebabkan oleh pemberian jarak tanam yang optimal dapat memberikan ruang gerak yang optimal bagi tanaman dalam proses pengambilan unsur hara sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang sehingga dapat menghasilkan hasil yang optimal pula. Diketahui bahwa dengan menggunakan jarak tanam 20 x 20 cm merupakan jarak tanam yang optimal karena tanaman dapat menyimpan unsur hara, bahan kering dan air yang tinggi, akibatnya dapat menambah berat segar tanaman. Hal tersebut dijelaskan oleh pendapat yang menyatakan bahwa air, unsur hara dan cahaya matahari merupakan unsur yang essensial. Apabila salah satu jumlah yang kurang, meskipun yang lainnya tersedia dalam jumlah yang banyak tidak dapat dimanfaatkan dengan baik dan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman (anonim, 1995).
Kedua faktor baik faktor pengolahan tanah maupun faktor jarak tanam memiliki pengaruh yang terpisah. Namun secara umum dapat dilihat bahwa pangaruh kedua faktor terhadap berat segar tanaman sangat menonjol. Menurut Goldsworty anf Fisher (1996), menyatakan bahwa tanaman memperoleh energi dan sebenarnya semua bahan penyusunnya melalui fotosintesis, dengan beberapa perkecualian, tumbuh-tumbuhan dasar mempunyai organ fotosintesis yang dianggap hanya beberapa daun-daun, terbuka terhadap udara, seringkali mempunyai kemampuan tinggi untuk mengeluarkan air dan darimana harus diambil karbondioksida (CO2). Jadi, tanaman dapat melakukan proses fotosintesis dan mentransfernya ke seluruh tubuh tanaman dengan sempurna dalam penggunaan penggolahan tanah dan jarak tanam yang tepat. Karena dengan menggunakan faktor penggolahan tanah dan jarak tanam yang tepat, tanaman dapat tumbuh dan berkembang serta akhirnya dapat menghasilkan produksi yang optimal.

BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan tentang pengaruh pengolahan tanah dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bayam, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
Kedua faktor baik faktor pengolahan tanah maupun faktor jarak tanam berpengaruh secara terpisah terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bayam.
Perlakuan pengolahan tanah dua kali memberikan hasil yang tertinggi yaitu 4,99 ton/ha, dan terendah pada perlakuan tanpa pengolahan tanah yaitu dengan hasil 2,74 ton/ha.
Perlakuan jarak tanam 20 x 20 cm memberikan hasil tertinggi yaitu 4,04 ton/ha, dan terendah pada perlakuan jarak tanam 20 x 40 cm dengan hasil 3,75 ton/ha.
5.2 Saran
Disarankan kepada petani agar dalam pembudidayaan bayam sebaiknya, menggunakan faktor pengolahan tanah dan faktor jarak tanam secara terpisah, karena keduanya tidak terjadi interaksi saat dilakukan penelitian.
Disarankan kepada peneliti lain supaya melakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan faktor yang sama.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1999. Brosur Usaha Tani seri 1-4 BP3G, Pasuruan.
Abidin, Z. (1984). Ilmu Tanaman, Angkasa Bandung.
Goldsworthy and Fisher (1996). Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Gardner, Pearce dan Mitchell, (1991). Fisiologi Tanaman Budidaya, Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Internet: Artikel Tentang Bayam. Available at www.google.int/agr, 18-01-2008.
Internet: Pedoman Budidaya Bayam. Available at www.google.int/agr, 18-01-2008.
Jumin, H. B. (1997). Agronomi, Rajawali Press. Jakarta.
Rukmana, R. (1995). Bayam, Bertanam dan Pengolahan Pasca Panen. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Sutarno, H. (1994). Budidaya Bayam Biji. Penerbit Bahtara, Jakarta.
Yusni, B. (2000). Bayam. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.

1 comment:

ctya ayurahayu said...

selamat malam kk, saya mau tanya nama lengkap yng meneliti tanaman bayam dan universitas nya dari mana mhon ya kk di balas pesan ini,,